Tampilkan postingan dengan label My Activity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Activity. Tampilkan semua postingan
pict from my own archive

Holllaaa...
Oke, hari ini aku bakal membagikan pengalaman aku tentang rekrutmen PT HM Sampoerna, Tbk yang aku ikuti dengan mendaftar sebagai Analyst di salah satu departemen. Aku berharap share pengalaman aku ini bakalan membantu kalian yang ingin berkarir di perusahaan afiliasi Philip Morrin International, Inc ini sekaligus menjadi ladang pahala buat aku karena aku membagikan ilmu yang bermanfaat, amin...

Sebelumnya aku bakalan ngutip deskripsi perusahaan ini dalam Annual Report 2016 sebagai berikut:
PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk merupakan perusahaan rokok terkemuka Indonesia. Perseoran memproduksi sejumlah kelompok merek rokok kretek yang telah dikenal luas, di antaranya Sampoerna A, Sampoerna Kretek, Sampoerna U dan Dji Sam Soe, yang merupakan “Raja Kretek” yang legendaris. Perseroan adalah anak perusahaan dari PT Philip Morris Indonesia (“PMID”) dan afiliasi dari Philip Morris International Inc. (“PMI”), perusahaan rokok internasional terkemuka di dunia. Pada tahun 2016, Sampoerna berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar dengan pangsa pasar sebesar 33,4% dari pasar rokok di Indonesia.
Deskripsi di atas aku harap bisa membantu kalian untuk sedikit memahami perusahaan rokok ini.

Aku daftar di Sampoerna bulan November 2017 (bulan kegalauan karena resmi tidak lagi menyandang status sebagai mahasiswi *exhale). Jadi, aku sempet daftar di Philip Morris Indonesia, waktu itu kayaknya aku kepo-in web nya dan terhubung ke laman www.sampoernacareer.id. Berhubung lagi anget-anget nya jadi fresh graduate (belum graduate juga sih, belum diwisuda jugaa), akhirnya aku berakhir stalking laman karir sampoerna itu. Aku cari tahu lah yah, nggak mau asal klik buat daftar. Setelah merasa ‘wah kayaknya menarik nih, perusahaan multinasional gitu’, aku memutuskan buat nyari lowongan yang sesuai dengan kompetensi dan kemampuan aku. Ada tuh rekrutmen untuk posisi analyst, full time, pas baca requirements nya, aku ngerasa cocok dan akhirnya aku ngisi data buat ngelamar. Udah itu, lamaa banget nggak ada notifikasi (kalau kalian udah pengalaman nyari kerja, kek begini udah biasa banget). Akhirnya aku sampai lupa pernah daftar wkwk. Udah lah, life must go on and I have to move on hmm...

Sampai akhirnya, awal Januari aku dapet email dari Sampoerna yang katanya mereka tertarik sama profile aku dan aku diminta buat ikut tahap selanjutnya. Aku dikasih link ke laman astronaut gitu dengan jangka waktu tertentu. Jadi, kalau udah melebihi waktu yang ditentukan, link bakal expired dan aku nggak bisa lagi ngakses. Oke, waktu itu bingung banget. Lanjut nggak nih? Akhirnya aku memantapkan hati buat lanjut dan ngerjain soal di hari terakhir, wkwk (maklum aku orangnya banyak mikir ck). Mau tau soal nya gimana? First, all is in English, muehehehe. Second, it was accounting cases. Third, an hour tasks. And last, you need calculator. Udah bisa mendeskripsikan lah yah. Pokoknya aku disuruh ngerjain soal akuntansi selama sejam dengan waktu pengerjaan bervariasi masing-masing soal, ada yang satu soal 30 detik, dan paling lama satu soal 2 menit. Soalnya tentang akuntansi dasar sampai akuntansi keuangan lanjut. Nggak ada tentang audit (kayaknya, lupa-lupa ingat nih, sorry). Soal bervariasi dari yang cuma nanyain definisi sampai yang disuruh ngitung yang rada njelimet. Saran aku untuk tahap ini adalah...TENANG! Kadang kalau model soal begini, terus udah ada timer nya, kita bakalan terpaku di timer, keringat dingin kalau waktu tinggal beberapa detik tapi jawaban belum nemu. Duhh, aku tau rasanya. Pokoknya keep calm and stay cool, pastikan kalian fokus ngerjain soal akuntansi nya dan jangan liatin waktu pengerjaan karena itu sangat mengganggu konsentrasi *cry. Aku nggak tau sih gimana mekanisme penilaian nya, apakah minus 4 kalau salah kayak di olimpiade akuntansi, atau malah nggak ada sistem pengurangan nilai kalaupun jawaban kita salah. Tapi waktu itu, I tried to do my best. And ya, I missed some numbers but I am happy with my works though hehe..

Dua hari kemudian --gila yang ini emang gercep abis, biasanya butuh waktu berminggu-minggu buat notifikasi tahap selanjutnya-- aku dihubungi pihak rekrutmen via email (lagi) untuk mengikuti tahap selanjutnya. Sebenernya nggak dikasih tau sih tahap selanjutnya apaan, tapi aku sempet kepo-kepo di kaskus dan nemu salah satu postingan kalau tahap ini adalah online interview. Okelah aku persiapkan dari segi penampilan (meski online, penampilan tetep harus badai), jiwa dan raga, semangat, dan pasti otak biar nggak ngadat pas diakses wkwk. Waktu itu, sama kayak tahap sebelumnya, aku dikasih link buat ke astronaut yang bakal expired selama 2 hari. Akhirnya, hari berikutnya, sore-sore ditengah hujan (ini beneran!), aku ngikutin online interview ini. Seleksi ini unik banget, jadi nanti ada pertanyaan yang muncul di layar, abis itu kita diminta buat jawab selama 1 menit (bentar banget). Ada trial nya kok, saran aku, kalian manfaatin trial ini biar nggak kagok waktu interview nya. Jangan lupa, interview ini pake Bahasa Inggris yah. Sering-sering latihan cap cis cus pakai Bahasa Inggris buat kalian yang masih belum terbiasa sama bahasa ini. It helps!

Seminggu kemudian, aku ditelpon sama pihak rekrutmen Sampoerna yang bilang kalau aku lolos dan diminta ikut interview di Surabaya 10 hari kemudian. Demi apaaahhh, itu aku ditelpon siang-siang abis solat dhuhur. Suara ibuknya kayak angin surga banget haha. Yaudah lah yah aku cengar cengir gaje, alhamdulillahh.. Sorenya aku dapet email kalau aku lolos dan disuruh nyiapin materi buat interview selanjutnya (yeepss, materi, apa aja? Nanti kuceritakan!). Di email itu, pihak rekrutmen bilang kalau mereka bakal menangguhkan biaya pp pesawat Semarang-Surabaya. Aduh, galau lah aku. Hari gini kalau ada yang kayak begitu biasanya penipuan. Sempet down juga, jangan-jangan aku ditipu. Tapi email nya resmi, no yang telpon pas siang juga no kantor wilayah Surabaya. Akhirnya aku pasrah aja, nunggu aja gitu kalau emang beneran ditangguhin tiket pp nya, kalau bener alhamdulillah, kalau boongan ya aku nggak berangkat. Esoknya aku ditanyain tentang no KTP buat kepentingan pemesanan tiket, yaudah aku kasihin, dan dua hari kemudian aku dapet email tiket pp Semarang-Surabaya. Duhh, aku sampai mikir, gila ini perusahaan, kaya bet wkwk. Lagi dan lagi, alhamdulillah.. Rejeki anak sholehah..

Oke, untuk interview ini emang agak beda sih. Biasanya kan kalau interview, kita cuma dateng dan nyiapin berkas abis itu ditanya-tanya sampai puyeng. Nah, kalau di Sampoerna, interview nya lebih unik. Tadi aku cerita kan ya buat nyiapin materi, yeps, aku diminta buat slide ppt tentang topik tertentu sebanyak maksimal 2-3 slide. Sempet bingung tuh di awal. Aduh, presentasi yah. Aku analisis dulu lah yah, topik apa sih yang bisa bikin aku stunning pas wawancara dan bikin interviewer terpesona? Akhirnya, aku nemu nih topik nya. Udah lah yah, aku keep di otak. Waktu interview ini mepet banget kepulangan aku dari Jakarta (pejuang CV yang ngikutin job fair di mana mana *cry). Akhirnya, aku buat slide ppt pagi hari di Surabaya dan naskah nya aku ketik di Bandara Juanda. Kadang aku ngerasa emang aku agak gila sih, tapi yaudah lah yang penting eksekusi wkwk..

Sebelum berangkat, aku beneran nggak bisa nyiapin materi karena kecapekan. Aku tidur, bangun jam 3 pagi, sementara pesawat take off jam 6 (hufftt). Udah minta tolong temen buat nganter ke Bandara, dianya ketiduran dan aku telepon hp nya mati. Mo nangis nanti riasan yang udah aku siapin sebisanya jadi berantakan. Serba salah. Thanks to Nadhiem Makarim yang udah nyiptain aplikasi gojek (aku harus sungkem sama beliau karena menyelamatkan akuu), alhamdulillah ada juga yang nerima orderan jam 4 pagi haha. Jujur, excited banget sih mau ke Surabaya dan bingung juga karena waktu itu aku beneran belum nyiapin ppt nya, hikss..

Sampai Bandara Juanda jam 7 lebih, aku langsung buka laptop dan bikin ppt secepat yang aku bisa, bikin konsep presentasi dan kerangka script sekilat mungkin. Aku baca-baca script nya dan aku juga sempet kepoin perkembangan industri rokok sekaligus progress Sampoerna dari annual report nya. Niat banget? Iya lah, harus, kalau mau sukses harus berdarah-darah dulu hehe. Waktu interview aku yang jam 10.30 emang membantu banget sih jadi aku punya waktu buat persiapan. Setelah semua siap, masalah selanjutnya adalah transportasi. Jujur, aku sama sekali nggak ngerti tentang Surabaya. Baru pertama ke sana, nggak ada saudara slash temen slash kenalan di sana. Mau pesen gojek, baru sadar kalau gojek mana mau ke Bandara. Akhirnya, aku naik ojek pangkalan ke tempat interview dengan biaya 45k yang harusnya cuma 15k via gojek. Nasib ku, duh Gusti..

Sampai tempat interview, aku disuruh ngasih KTP buat dituker sama tanda pengenal tamu dan harus nunggu juga karena sesi interview ini pake sistem giliran. Oke lah, sambil nunggu aku juga sambil observasi tentang lingkungan di sana. Nyaman bet cui, wkwk. Kayak di hotel loh kantornya. Bagus, dan didominasi sama karyawan chinese yang gemes-gemes haha. Dan akhirnya setelah nunggu selama 30 menit, aku dipanggil buat interview.

Ada 4 orang yang jadi interviewer. 3 orang user dari HO Surabaya dan 1 orang HRD dari HO Jakarta. Yang unik adalah interview ini pake teknik teleconference untuk HRD dari HO Jakarta. Pertemuan pertama basa-basi dulu, abis itu aku presentasi. Nah, di email notifikasi dari tim rekrutmen, dulu ditulis kalau presentasi nya dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Tapi, waktu interview, aku sempet tanya “Mohon maaf Ibu, Bapak, kali ini saya presentasi dalam Bahasa atau English?” dan beliau serempak jawab pakai Bahasa Inggris. Oke lah, alhamdulillah udah disiapin. Akhirnya aku cuap cuap lah dengan Bahasa Inggris selama 15 menit. Setelahnya, ada sesi tanya jawab gitu, umum sih, identik lah pertanyaan wawancara. Setelah ngobrol selama satu jam, akhirnya salah satu interviewer bilang “Oke, now we move to Bahasa”. Udahlah ditanya-tanya lagi, jujur rasanya lebih ke cerita sama share aja sih hehe. Aku juga ditanyain beberapa pertanyaan tentang akuntansi, aku inget banget pertanyaan tentang persediaan plus aset tetap (yang lain lupa hehe). Setelah satu setengah jam, akhirnya interview selesai dan aku dikasih tau kalau info hasilnya bakal dikasih tau seminggu lagi.

Menurut aku, proses rekrutmen Sampoerna yang mengharuskan sesi presentasi ini emang bagus sih. Tapi agak heran juga sebenernya, I mean I will work at back office but I should have good public speaking though. Jadi, aku rasa inti rekrutmen Sampoerna adalah di tahap presentasi ini. Well, dari presentasi kita kan emang bisa dilihat gimana PD nya si presenter, cara dia ngomong, gesture, wawasan plus attitude nya. So, aku bener-bener mengapresiasi ide Sampoerna untuk sesi ini. Cara nya jitu banget buat nilai calon karyawan, hmm.. Ditambah lagi, dengan topik yang ditentuin, bener-bener bisa ngeliat effort si calon karyawan tentang perjalanan hidupnya. Let’s see, topik nya kan tentang pencapaian terbesar, tantangan terbesar dan juga gagasan inovatif. Dengan topik itu, audience bakalan ngerti gimana sih struggle si presenter buat dapetin tujuan hidupnya. Very good idea!

Oke, setelah interview ini, aku jalan-jalan ke Citos bentar buat solat sama makan siang. Abis itu ke Bandara buat perjalanan ke Semarang. Ada kejadian yang mendebarkan juga sih wkwk. Jadi aku hampir aja ketinggalan pesawat karena salah masuk terminal haha. Ya mana tau aku kalau Bandara Juanda punya dua terminal, jadi waktu itu aku cuma bilang buat diantar ke Bandara Juanda aja. Eh, si abang nganter nya ke terminal dua padahal harusnya aku ke terminal satu. Mana pesawat ku take off 45 menit lagi. Panik lah yah setelah tau salah terminal (mau check in nggak ada counter nya haha!). Akhirnya, merelakan 70K, aku naik taksi ke terminal 1. Udah kayak fast and furious, balapan wkwk. Alhamdulillah sampai dengan selamat, tanpa cela dan masih paripurna. Untungnya lagi, pesawat ku delay. Itu adalah kali pertama aku happy karena pesawat delay hahahahaha....

Pengumuman yang katanya makan waktu seminggu, ternyata meleset jauh, jauuuhhh banget. Cuma butuh beberapa jam karena jam 5 sore pas banget aku udah mendarat di Semarang lagi, aku ditelpon sama pihak rekrutmen untuk medical check-up. Duh rasanya bersyukur banget, nggak sia-sia juga bikin ppt di bandara. Malamnya aku nanya-nanya ke temen-temen aku tentang medical check-up ini. Ada banyak saran yang masuk dan aku lakuin malem itu. Besoknya aku ke lab yang ditunjuk dan ikutin semua tahapan medical check-up yang ditentuin. 

Beberapa hari setelah medical check-up adalah puncak kegalauan. Gimana yah, mau makan nggak enak, tidur kepikiran, nonton film juga nggak mood. Berasa di php in tingkat dewa, nyesek. Aku selalu harap-harap cemas nungguin email dari Sampoerna atau telepon. Sampai kaget gitu kalau hp bunyi notifikasi email atau ada panggilan masuk wkwk. Beberapa temen bilang kalau udah sampai tahap ini, kayak udah jalan masuk gitu, 95% diterima. Tapi kupikir masih ada 5% nya lagi. Daaannn di tahap med check tuh kayak bakalan ada kabar baik atau buruk, kalau diterima berarti kita sehat, kalau ditolak ada kemungkinan kita punya penyakit. Sampai akhirnya, kegalauan aku berakhir satu minggu kemudian karena ditengah hujan badai (ini beneran, deres banget!) aku dapet telepon dari Sampoerna kalau aku dinyatakan fit dan bakalan masuk per 1 Maret 2018. Alhamdulillah wasyukurillah, akhirnya perjuangan aku buat dapet kerjaan terpenuhi dan dikabulkan. Aku mulai cengengesan gaje sejak saat itu, hehe...

Well, jujur aja aku nggak pernah tuh kepikiran bahwa aku bakalan berkarir di perusahaan multinasional FMCG dengan sektor rokok. Hmm, life is funny sometimes. Tapi kupikir, ini mungkin emang jalan yang udah ditetapin sama Yang Di Atas buat aku di dunia ini. Sekarang ini, aku lagi nunggu waktu terbang aku ke Surabaya buat tanda tangan offering letter sekaligus kerja di sana hehe. Fyi, aku bakalan dibayarin tiket pesawat sama hotel juga loh. Ini kusuka banget dari Sampoerna, it truly appreciates all employee candidates...

That’s all my experience about having interview in PT HM Sampoerna, Tbk. Hope you guys have small description on how they employ their employee. If you want to be one of them, try your best and see you in the office! 

Much love, J...


credit pict to: google


Hello guys,

Kali ini aku bakal share tentang pengalaman aku ikut seleksi rekrutmen si merah lewat program Great People Trainee Program (GPTP) di jalur akademik. Well, PT Telekomunikasi Indonesia biasanya ngadain rekrutmen GPTP lewat jalur akademik sama prestasi. Kalau akademik, nanti beneran sesuai jurusan gitu. Nah, kalau jalur prestasi, biasanya rekrutmen ini buat mereka-mereka yang berprestasi di bidang olahraga, musik, atau budaya (Duta, Puteri, de el el you name it). Since sharing is caring, dan pengalaman aku kemarin yang sangat-sangat susah buat nyari referensi tentang proses rekrutmen ini, akhirnya hari ini aku mutusin buat kasih kalian gambaran tentang rekrutmen GPTP ini. Here we go!

Untuk proses rekrutmen si merah, semuanya menggunakan teknologi, sesuai lah sama visi nya yang ingin menjadi “The King of Digital in the Region”. Tahap pertama, yaitu seleksi administrasi. Aku daftar bulan November 2017. Nanti, pendaftar diminta buat ngisi data-data di laman rekrutmen Telkom. Data-data nya umum sih, ada data diri, prestasi, keluarga, sama jawab pertanyaan-pertanyaan tentang motivasi mendaftar, pendidikan dan karir. Ohiya, jangan lupa buat nyiapin foto close up, foto formal, scan akta, sama scan sertifikat tes Bahasa Inggris. Saran aku, make sure kalau kamu sudah melengkapi persyaratan atau requirement yang dicantumin Telkom buat proses rekrutmen ini. Misalnya, TOEFL minimal 450, so kita harus punya skor TOEFL minimal 450. Menurut aku, untuk tahap ini, berkas yang masuk ke Telkom akan terseleksi otomatis sesuai dengan persyaratan yang udah mereka tetapkan di awal.

Setelah tahapan seleksi administrasi, selanjutnya adalah Tahap I rekrutmen yang terdiri dari TPA, Bahasa Inggris, sama tes bidang sesuai jurusan. Ada 5.800 lebih peserta yang lolos tahap administrasi di batch yang aku ikutin ini. Kaget banget, gila sebanyak ini yah yang mau berkarir di si merah (wkwk). Padahal aku ikut Gelombang II, kalau ditambah sama Gelombang I, seberapa banyaak coba? Hmm, abis itu aku nyadar banget kalau aku nggak boleh main-main ngikutin seleksi Telkom ini. Kompetitif banget!

Oke, as I was saying earlier kalau seluruh rekrutmen Telkom sudah computerized and digitalized, proses pengerjaan soal pun via internet. Waktu itu aku dapet jadwal selama 3 hari. Hari pertama untuk data confirmation. Di tahap ini aku diminta buat konfirmasi nama sama no peserta. Abis itu kayak trial soal, tapi soalnya lebih ke pengetahuan umum kok. Ohiya, ada satu aturan yang bikin kita harus bener bener waspada. Peserta diminta untuk menggunakan PC/laptop dan koneksi internet yang sama saat data confirmation dan pengerjaan soal-soal. So, make sure PC/laptop dalam keadaan sehat walafiat dan jaringan internet kalian bisa diajak lari biar nggak hang!

Selanjutnya, hari kedua aku diminta mengerjakan TPA, and to be honest it was not easy yet not that difficult. Wkwkwk, bingung? Aku jugaaakkk. Hahaha, intinya ada saatnya aku sampai pengin nangis karena waktunya udah mepet tapi kok jawabannya belum nemu, gemes-gemes gimana gitu. Aku lupa ada berapa tahapan untuk TPA nya, tapi seinget aku ada persamaan kata, numerical, analisis, sama bangun. Tiap sesi ada waktunya sendiri-sendiri, jadi kalau waktunya udah abis tapi semua soal belum dikerjain, secara otomatis laman soal bakal tertutup dan jawaban kalian akan tersimpan dengan sendirinya.

Setelah berpusing-pusing ria dengan TPA, hari berikutnya adalah sesi Bahasa Inggris dan tes bidang. Waktu itu aku lebih fokus belajar buat tes bidang. Why? Karena aku sadar udah banyak mata kuliah yang dilupakan sama otak karena udah setahun lebih nggak belajar (semester 7 KKN PKL, semester 8 skripsi). Aku fokuskan ke AKM sama AKL (nebak aja sih ini, soalnya kedua makul itu emang intinya akuntansi). Saat sesi bahasa Inggris, aku bisa lah santai, alhamdulillah bisa ngerjain dengan baik. Tipe soalnya lebih ke Bahasa Inggris business untuk sesi soal teks rumpang, aku lupa deh ada error recognition atau nggak (hehe, kalian belajar ajaa). Yang paling susah dari soal Bahasa Inggris adalah sesi reading bagian milih True, False, or Not Given. Duh bok, soal macam begini kan bacaannya berbanyak paragraf, harus jeli juga. Tapi buat kalian yang udah sering baca-baca artikel, bakalan nggak kagok sih di sesi ini. Hmm, aku menyarankan kalian untuk membaca teks secara skimming dan fokus ke pertanyaan (daripada baca seksama tiap paragraf dan makan waktu banyak, ada batas waktu pengerjaan juga di sesi ini). Kalau dipikir, soal Bahasa Inggris di sesi ini lumayan lah kayak soal di IELTS.

Hari ketiga siang, aku ngerjain soal akuntansi. Kesan? Mmm, lumayan, lumayan mupeng maksudnya wkwkwk. Soalnya full english dari soal nomor pertama sampai terakhir. Ada soal tentang akuntansi dasar (persediaan) sampai tentang laporan konsolidasi (tebakan ku buat belajar AKM AKL benar, alhamdulillah). Tapi soalnya nggak ribet-ribet amat sih, maksud aku kita nggak harus ngitung yang njelimet gitu. Bisa lah diawang-awang. Tapi aku saranin kalian buat nyiapin kertas, pensil plus kalkulator. Waktu pengerjaan ada 45 menit dan jumlah soal ada 30 (kalau nggak salah).

Setelah semua tahap terlewati, hampir tiga minggu kemudian aku dapet notifikasi email tentang hasil seleksi GPTP. Daannn, alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk bersaing di Tahap II (yeeeyyyyyy!). Di tahap II ini aku diminta buat nyiapin essay tentang the most complex problem in Indonesia, how to overcome the issue by Telkom, and what is our contribution through Telkom regarding the issue. Hmm, panjang wkwk, tapi essay nya nggak boleh lebih dari 1.000 karakter. Tentu, essay ini ditulis dalam Bahasa Inggris. Referensi juga harus diperhatikan karena Telkom meminta data yang akurat untuk membangun essay kita, plus sitasi dari artikel atau buku.

Selain diminta menulis essay, aku juga diharuskan meminta reference letter. Format reference letter udah disediakan sama Telkom, kita tinggal kasih ke pihak yang mau diminta kerjasamanya buat bikin surat referensi ini. Aku buat banyak surat referensi, tapi yang akhirnya aku kirimkan cuma 2. Why? Ada yang bilang reference letter itu jangan banyak-banyak, tapi yang kuat (baik isinya maupun pihak yang buat). Sebenernya, dulu aku udah sempet janjian ke Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, sayang sekali karena waktu beliau yang super duper sibuk, akhirnya aku harus merelakan diri karena gagal dapet reference letter dari beliau. Akhirnya, reference letter ku ditulis oleh dosen pembimbing organisasi ku dulu dan Sekretaris Jurusan Akuntansi di kampus.

Selanjutnya, di tahap II juga ada online interview. Ini nih yang bikin aku amaze, mutakhir sekalee (maklum baru pertama!). Waktu itu, aku udah bingung banget tentang materi online interview ini. Aku sampe baca forum di kaskus, baca blog-blog teman-teman yang udah pernah ikut GPTP ini. Dan kesimpulannya adalah, saat online interview nanti aku cuma bakalan ditanya seputar CV dan kehidupan kampus. Sedikit pula ditanyakan tentang mata kuliah. Setelah lega dengan kesimpulan ini, akhirnya aku menyiapkan seadanya aja. Ya santai aja, kan cuma seputar CV. Bisa lah, yang penting nanti talk active aja. And guess what? Oh my God, aku kompre! Aku nggak nyangka banget ternyata aku sama sekali nggak ditanyain tentang kehidupan aku melainkan full ditanyain tentang akuntansi. Setelah ber hai-halo ria di awal, aku langsung ditanyain “Menurut kamu, akuntansi itu apa sih? Tahapan akuntansi itu apa aja?” Okelah, masih gampang. Tapi waktu udah di tahap “Kamu tahu tentang IFRS 15?”, aku keki banget. Duh, kenapa aku nggak belajar. Alhasil, aku gagal di 3 pertanyaan tentang IFRS, economic value added (aku lupa cara ngitungnya gimana), sama revenue recognition untuk agent-principal relationship. Selesai online interview ini, aku bener-bener hopeless. Menyalahkan diri sendiri karena nggak belajar dari awal (aku cuma baca-baca annual report Telkom sama AKL). Well, nasi sudah menjadi bubur. Lemes-lemes gemes deh abis interview wkwk...

So, kalian udah bisa nebak lah yah ending rekrutmen ini gimana? Haha, yes, sebulan kemudian aku dapet notifikasi hasil rekrutmen dan pas aku buka,  I was failed. Jujur, aku nggak kecewa-kecewa banget sih karena udah bisa menduga kalau aku nggak lolos tahap ini. Salah aku juga karena nggak belajar dengan baik, tapi mungkin emang Alloh nggak ngijinin aku berkarir di Telkom kali ya. Tapi ada hikmah kok dari seleksi GPTP Telkom ini buat aku. Apaan? Hmm, aku jadi jauh lebih rajin buat buka lembaran masa lalu, maksud aku, buka catatan akuntansi ku yang dulu, baca-baca lagi belajar lagi, hmmm...

Begitulah tahapan rekrutmen GPTP Telkom yang udah aku ikuti, tahap selanjutnya seandainya aku lolos adalah tahap terakhir yang terdiri dari diskusi panel, business game model, TPA, sama medical check up. Untuk kawan-kawan yang semangat mengejar karir di si merah ini, semangat terus dan jangan lupa buat belajar!


Wahyu, Jariyah, Fahmi
-Dream Team-


Mimpi adalah kunci.. untuk kita menaklukkan dunia..
Berlarilah.. tanpa lelah, sampai engkau meraihnya.. (Nidji –Laskar Pelangi)

Ada yang berkata bahwa mimpi hanya sebuah ilusi yang pada akhirnya menyiksa diri. Maka bermimpilah sewajar nya, agar nanti tak terlalu terpuruk dengan realita yang ada. Namun, Bung Karno pernah berkata “bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Dan kami, tiga pemuda biasa, memilih untuk membangun mimpi-mimpi kami..

Awalnya, hanya sebuah khayalan belaka untuk menginjakkan kaki di Negeri Sakura, sebuah negara yang kami kenal sejak kecil melalui animasi lucu Doraemon, Sinchan, Chibi Maruko, Naruto, dan sebagainya. Namun, justru berawal dari gurauan dan mimpi lah, asa kami berujung realita. Siapa yang menyangka bahwa kami mampu mengelilingi sebagian wilayah Jepang dalam waktu 8 hari dengan GRATIS? Siapa pula yang menyangka bahwa kami berkesempatan untuk mempelajari perekonomian, industry, teknologi, dan budaya Jepang langsung di Negeri Sakura itu?

Adalah sebuah program bertajuk JENESYS (Japan East-Asia Network of Exchange for Youths and Students) dari Kementerian Luar Negeri Jepang yang memberikan kesempatan langka kepada kami, The Dream Team, untuk menginjakkan kaki di negeri Sakura. Program JENESYS merupakan program pertukaran government to government yang bertujuan untuk memberikan pemahaman global mengenai Jepang kepada dunia.

Kebahagiaan yang luar biasa merajai hati kami saat kami diumumkan sebagai peserta program JENESYS ini. Saat itu, ada banyak halangan dan rintangan yang mewarnai perjuangan kami pada saat registrasi. Saya sendiri sedang menjalankan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di mana desa tempat saya mengabdi sangat sulit menerima sinyal service provider. Sementara dua orang rekan saya, Wahyu Nursiswo dan Tubagus Fahmi merupakan aktivis kampus yang super sibuk. Maka, menjadi sesuatu yang luar biasa ketika kami terpilih mengingat betapa singkatnya waktu kami untuk menyiapkan kelengkapan berkas demi mendaftar program ini. Bagaimana tidak? Kami mendapatkan pemberitahuan program di hari terakhir pendaftaran, dan beruntung sekali saat itu saya sedang berada di kos (karena hari itu ada jadwal asistensi, saya izin KKN). Di tengah-tengah asistensi, kami mempersiapkan kelengkapan berkas. Berusaha menyusun yang terbaik meski waktu yang tersedia membuat kami sedikit panik. Namun, mungkin kerja keras kami dan rapalan doa yang kami amin-aminkan terdengar oleh Tuhan.

Saat mendapatkan email pemberitahuan, kami masih sulit percaya bahwa kami akan ke Jepang. Semua serba tiba-tiba dan kami bahkan tidak pernah menyangka. Hingga saat keberangkatan pun, kami masih merasa bahwa seperti sedang bermimpi. Bahkan sekarang, saya sering kaget dengan fakta bahwa “I’ve been in Japan for 8 days”. What an unforgettable story!

8 hari di Jepang terasa sangat singkat, karena bahkan tiap detik yang kami lalui terasa begitu cepat. Ada banyak hal yang kami pelajari, mulai dari kebudayaan, ekonomi, hingga politik. Bertemu orang-orang penting hingga merasakan sendiri bagaimana kental nya budaya Jepang di tengah masyarakat nya secara langsung menjadi pengalaman tersendiri. Delapan hari yang luar biasa, delapan hari yang tak kan pernah terlupa.

Perjalanan ini merupakan mimpi kami yang bahkan tak berani kami jajaki. Namun, dengan kehendak Tuhan, maka mimpi kami ini berubah menjadi pengalaman yang tak tergantikan. Dari perjalanan ini, ada banyak kisah baru yang tertulis di catatan kehidupan kami, dan saya sendiri ingin sekali berbagi. Oleh karena itu, selanjutnya saya akan memposting segala yang saya alami di Jepang, mulai dari keberangkatan hingga kepulangan kami ke tanah air. Masih ingatkan dengan tulisan saya yang bertajuk Never Ending Story? Catatan ini adalah chapter ke dua dari kisah saya. Selamat membaca, semoga dreamer di luar sana menemukan secercah inspirasi untuk terus memperjuangkan mimpi.

Salam

Dream Team
J

Learning by doing, cause an effort will not end useless


Hello there guys,
How's life? Well guys, when I redesign my beloved blog yesterday, I suddenly have a passion and big desire to write all the time and then post on my blog. Late consciousness actually, too late, because I have a lots of stories, a lot of moments haven't been published and written! So, here I am in front of my laptop, typing, and want to share what happen today. Happy reading :D

Okay, today I and some of my friends, their names are Febri and Maya, had a big project. We were doing a preliminary round of an accounting competition. It was online and we were given 3 hours to do the task. At the first I thought that it will be easy because 3 hours is a long time, but when the committee sent the task to our email, I was, mm, shocked. Haha, the tasks was a little bit complicated and because we don't have the books they suggested as the reference, so we don't make it fully completed. Poor us, we have to spend IDR 125.000 for this preliminary round and we can't fight for best. Well, we are waiting for the announcement at the end of this month. Accepted? Alhamdulillah. Rejected? Well, at least we learned a lot, experiences creates you smarter, right?

There was something happened today, something that may give us a lesson, life lesson. Well, we realized that we can't do our best because lack of reference, time limits, internet connection, etc. We also realized that we just build our capacity to be better and stronger, so in the journey we took we just want to take all the experience. Learning every second, make every mistaken points as a lesson for the next journey. Ya, we are not that noble by not expecting the best, by not expecting the reward or the achievement. We admit that, for sure. For some reasons, some times we were envy for another team's achievement or some of us felt guilty if we didn't do our best. Getting rush in the injury time, and try to forgive all the team's mistakes. That was what happen today. We have mistakenly send the wrong file as our answer to the committee, and we realized 2 minutes before the time was over. Haha, I can laugh at the moment but back then I was confused and feel like omg-we-do-the-biggest-stupid-mistake! But, we could cover it, perfectly! Proud of my partners, Febri and Maya.

From that experience we had today, a mistake we did, we can take three lessons.

First, we need to calm down every time. Even though we are in the injury time, there is no need to rush. Getting rush will disturb our work, destroy our concentration, and place us in the condition where we don't know what to do. So, calm down, relax, and do everything elegantly.

Second, don't feel guilty. In team, every action we do is team's action. So, in team activity don't say sorry for making mistake because it will leave you feel bad. Just, take the mistake as a lesson and promise yourself that mistake won't be happened twice. Learning by doing, cause when it comes to our passion we will never get good enough.

And the last lesson I get is learn more. Haha.. Ya, I am sure that I need to learn more. Today I did Advanced Accounting that I took the lesson in my 4th semester (I am 6th now). I almost forget all the material given by my lecturer (how come!). So, I need to open my book as much as possible, read and understand the material, and learn to make fast anwer (we will be limited by time in a competition, so we need to think fast).

Well, that's all my life lessons today. We will make another step to strengthen our accounting by join another competition. May we can, at the end, have a great achievement, because I believe that an effort will not end useless.

See ya on another experience ^^
Memang benar bahwa buku adalah jendela dunia, lewatnya kita belajar tentang berbagai hal di setiap belahan dunia. Setiap kata yang terbaca mengiaskan miliaran imajinasi tanpa batas. Dunia serasa dekat, meskipun sejatinya kita dan dunia itu terpisah oleh jarak. Lalu, cukupkah dengan hanya melihat lewat buku? Tidakkah ingin melihat dunia yang ‘sebenarnya’? Mengalaminya sendiri dan merasakan pengalaman tak terduga yang bahkan tak bisa diwakilkan dengan kata-kata? Dan inilah ceritaku dan sembilan kawanku, yang berhasil menginjakkan kaki di negeri seberang tanpa kaca mata buku.

Well, kami hanyalah pemuda biasa dengan jutaan mimpi yang coba kami wujudkan untuk jadi realita. Pemuda dengan keterbatasan yang kadang menyulitkan kami untuk mewujudkan mimpi. Meskipun demikian, kami tetap percaya bahwa probabilitas pasti ada, bahwa suatu saat mimpi-mimpi kami tidak hanya jadi asa belaka namun berubah menjadi realita. Kami juga menyadari bahwa gagal dan kecewa seringkali menyapa, namun keyakinan selalu menghempaskan aral yang ada. Kuncinya: berusaha, berdoa, dan bersabar. Berusaha, sebagai wujud perjuangan untuk mewujudkan mimpi jadi realita. Berdoa, karena tanpa ridlo-Nya semua akan sia-sia. Bersabar, karena mungkin butuh waktu yang tak hanya berhenti pada hitungan hari, minggu, bulan, dan tahun. Namun pada akhirnya, memang benar bahwa setiap peluh yang dikeluarkan, doa yang dipanjatkan, dan lapang hati untuk bersabar mengantarkan kami pada realita yang sebelumnya selalu kami amin-aminkan: menginjakkan kaki di negara lain, di Negeri Jiran.
Sebuah kesempatan yang diberikan kampus tercinta untuk mengikuti sebuah agenda di Johor Bahru, Malaysia menjawab mimpi-mimpi kami. Kebahagiaan yang luar biasa menyapa kami ketika kesempatan itu datang. Bagaimana tidak? Ini mimpi kami, salah satu mimpi terbesar kami! Maka, tanpa pikir panjang kami mengambil peluang ini. Padahal, pada saat itu beberapa dari kami belum memiliki passport, yang notabene adalah syarat mutlak untuk ke luar negeri.

Maka dimulailah kesibukan kami mempersiapkan keberangkatan kami. Mulai mengurus passport, membeli tiket pesawat, merencanakan agenda di luar negeri, menukar uang (rupiah tak berlaku di sana kan?) hingga persiapan performance yang hendak ditampilkan di sana. Semua itu kami lakukan hanya dalam waktu dua minggu, di tengah kesibukan mengerjakan Ujian Akhir Semester dan kongres organisasi. Melelahkan memang, tapi apalah artinya lelah itu ketika kami sedang melakukan langkah terakhir menuju mimpi yang kami idam-idamkan.

Perjalanan kami dimulai pada tanggal 22 Januari 2016 dengan sebuah pesawat yang terbang dari Bandara International Adi Sucipto (Yogyakarta) menuju Bandara Internasional Senai (Johor Bahru). Penerbangan ini adalah yang pertama untuk sebagian dari kami (banyak sekali hal pertama dalam perjalanan ini!). Sesampainya di Johor Bahru, kami cukup terkejut mengenai dua hal, waktu dan bahasa. Di sana, waktu berjalan lebih cepat satu jam sehingga kami harus menyesuaikan petunjuk waktu di jam tangan kami. Lalu bahasa, penduduk Malaysia menggunakan bahasa Melayu yang sedikit susah untuk kami pahami sehingga pada akhirnya kami menggunakan Bahasa Inggris.

Kegiatan kami di Negeri Jiran dimulai di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Kami melaksanakan kegiatan di UTM selama 6 hari. Dalam agenda tersebut, kami belajar banyak hal dan bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang. Kami belajar mengenai kepemimpinan, debat, public speaking, NPL, keuangan, kewirausahaan, profesionalisme dunia kerja, dan isu-isu global. Dalam agenda ini kami juga mengikuti beberapa kompetisi. Di sana kami mengasah softskill Bahasa Inggris kami, karena semua agenda menggunakan Bahasa Inggris! Bukan hal yang mudah sebenarnya, mengingat kami terbiasa berceloteh dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Di samping bahasa, kami juga belajar budaya, dan ini merupakan hal yang paling menyenangkan. Sharing dengan peserta dari negara lain mengenai budaya dan bahasa membuka pandangan kami, memberikan kesadaran bahwa kami tinggal di bagian kecil dari dunia. Cukup menyenangkan belajar tarian dari Yaman dan belajar bahasa Arab. Pengalaman yang paling mengejutkan adalah saat teman satu kelompok saya yang berasal dari Malaysia dan Palestina ikut mempersembahkan Tarian Bali (Pendet dan Kecak) pada saat agenda ‘Shooting Star’ :D (Di sana kami dibagi dalam banyak kelompok, jadi kami tidak hanya berinteraksi dengan peserta dari Unnes)


(Kegiatan kami di UTM, Skudai, Johor Bahru)

Sedih adalah ungkapan rasa yang menggambarkan perasaan kami kala penutupan agenda di UTM. Tidak sedikit dari kami, para peserta, yang menitikkan air mata saat malam terakhir kami bersama. Hampir seminggu kami bersama, sehingga rasa persahabatan dan kekeluargaan memang sudah meraja. Apalagi dengan fakta multi nasional kami yang rasanya akan sulit untuk berkumpul kembali. Oleh karena itu, kami saling berbagi surat, kontak dan social media. Ya, komunikasi lewat media mungkin memang tidak lebih memuaskan ketimbang jika bercengkrama secara langsung, namun paling tidak kebersamaan kami tetap terjaga. Alhasil, di akhir acara kontak kami penuh dengan nama-nama baru yang seminggu lalu belum kami kenal :D

Namun, perjalanan kami (rombongan kampus konservasi) tak berakhir di Johor. Kami berencana jalan-jalan ke pusat negara Malaysia, mengunjungi Twin Tower yang terkenal itu! Berbekal google map dan tekad melancong, selepas acara di UTM kami berangkat ke Kuala Lumpur. Kami cukup amaze dengan tata kota dan transportasi umum di sana (semoga suatu saat nanti kita, para pemuda, bisa mewujudkan Indonesia yang lebih tertata). Sesampainya di Kuala Lumpur, kami merencanakan perjalanan wisata kami (dengan bantuan google tentunya!).

Hari pertama di Kuala Lumpur, kami mengunjungi empat destinasi wisata. Destinasi pertama adalah Istana Negara (King Palace Malaysia). Bangunan kokoh khas Negeri Jiran menyapa kami kala kami sampai di sana. Selanjutnya, kami bergerak menuju wisata yang bernama Batu Caves. Wisata ini khas India (loh?). Ya, penduduk Malaysia didominasi oleh orang Melayu, India, dan Tiongkok. Jadi, tidak mengherankan ketika menjumpai warga Malaysia menggunakan kain sari. Di Batu Caves, kami merasa berada di India. Ada patung, makanan, aksesoris dan banyak warga India. Setelah menikmati wisata di Batu Caves, kami menuju wisata Genting Skyway, sebuah wisata kereta gantung. Ini adalah pengalaman pertama kami. Sangat menyenangkan melihat pemandangan dari atas kereta gantung. Meskipun pada awalnya kami cukup takut untuk naik (tinggi banget loh!). Dan perjalanan kami hari itu ditutup dengan... Petronas Tower atau Twin Tower! Kami menghabiskan waktu lebih dari 3 jam di sana.

Hari kedua dan hari terakhir kami di Kuala Lumpur (esoknya kami pulang ke Indonesia) kami mengunjungi China Town, Pasar Seni, National Mosque, Muzium Textil, Muzium Muzik, KL Art Gallery, Merdeka Square, dan Masjid Jamek. Lelah berjalan seharian tak menyulutkan semangat kami untuk mengunjungi sebanyak mungkin destinasi wisata di Kuala Lumpur. Kami tak takut tersesat, karena kami tak berjalan seorang diri. Dan berpergian dengan sahabat memang obat ampuh lelah, karena mereka tak pernah lupa untuk menguatkan dan menyemangati :D


(Melancong di Kuala Lumpur)

Perjalanan yang tak terlupakan ini diakhiri dengan kepulangan kami ke tanah air tercinta pada 31 Januari 2016. Kepulangan kami ke Indonesia ini merupakan akhir dari perjalanan kami ke Negeri Jiran, namun kepulangan ini juga merupakan awal bagi mimpi-mimpi kami selanjutnya. Karena dalam benak kami, mimpi yang baru mulai dirilis (well, saya juga ingin ke Eropa!). Kami pun berjanji, bahwa cerita ini tak akan pernah usai, karena suatu saat nanti kami akan menulis cerita tentang perjalanan kami ke belahan dunia lain, karena ini adalah never ending story!

Nah, kawanku, kami telah memulai perjalanan pertama kami ke luar negeri. Sekarang giliran kamu, rilislah mimpimu berkunjung ke luar negeri. Persiapkanlah untuk mewujudkan mimpi itu (bahasa inggris dan tak ada salahnya membuat passport dulu). Dan dalam perjalanan mewujudkan mimpi itu, yakin dan percayalah bahwa suatu saat nanti kamu akan benar-benar menginjakkan kaki di negara impian itu. Meski mungkin akan lama sampai mimpi itu terwujud, teruslah berupaya dan percaya, karena bahkan seorang Presiden Amerika ke-26, Theodore Roosevelt pernah berucap ‘Believe You Can, and You’re Halfway There!’. Jadi kawanku, selamat bermimpi dan merealisasikan mimpi, dan jangan lupa untuk menuliskan ceritamu untuk merangkaikan never ending story ini..

See ya on the next journey written by me or YOU! 
Kami menanti tulisan kamu tentang perjalananmu ke luar negeri..

Cheers! 
Sepuluh pemuda pejuang mimpi
(Jaja, Eva, Jo, Muchlis, Imada, Adib, Ami, Okta, Musta, Fahmi)



Ditulis oleh: Jaja (KIMErs 2015)
Di Semarang, 1 Februari 2016, 19.10 WIB